Monday, July 18, 2011

Otak Remaja Pecandu Internet Cenderung Keriput




Penggunaan internet sudah sangat umum pada zaman sekarang. Tapi sebuah studi menemukan bahwa menggunakan internet secara berlebihan dapat merusak otak remaja yang membuat salah satu bagian otak cenderung keriput.

Para ilmuwan menemukan adanya tanda-tanda atrofi (penyusutan) pada materi abu-abu di otak remaja pengguna internet berat yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Hal ini dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi dan memori, serta kemampuan remaja untuk membuat keputusan dan tujuan yang diterapkan. Selain itu juga dapat mengurangi hambatan dan mendorong remaja melakukan perilaku yang tidak pantas.

Kesimpulan ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan dengan menggunakan scan otak MRI dari 18 pelajar berusia 19 tahun yang menghabiskan 8 sampai 13 jam sehari untuk bermain game online,selama enam hari dalam seminggu.

Pelajar diklasifikasikan sebagai pecandu internet setelah menjawab delapan pertanyaan, termasuk apakah mereka telah mencoba untuk berhenti menggunakan internet dan apakah mereka berbohong kepada anggota keluarga tentang jumlah waktu yang mereka habiskan untuk online.

Hasil perbandingan dengan kelompok kontrol menunjukkan bahwa remaja pecandu internet mengalami kerusakan pada materi abu-abu di permukaan keriput otak (korteks), yang merupakan tempat pengolahan memori, emosi, kemampuan bahasa, penglihatan, pendengaran dan kontrol motor.

Peneliti juga menemukan adanya perubahan dalam jaringan otak yang disebut sebagai materi putih, yang melewatkan pesan antara daerah berbeda dari materi abu-abu dalam sistem saraf.

Menurut peneliti, kelainan ini dapat membuat remaja lebih bergantung pada internet dan harus menghadapi risiko mengalami IAD (internet addiction disorder).

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kecanduan internet jangka panjang akan mengakibatkan perubahan struktur otak," jelas peneliti yang merupakan ahli saraf dan ahli radiologi di universitas dan rumah sakit di China, seperti dilansir Dailymail, Senin (18/7/2011).

Saturday, July 16, 2011

Sony Ericsson Xperia Play Dihargai Rp 4 Juta



Sony Ericsson menghadirkan lagi smartphone Android terbarunya ke pasar Tanah Air. Vendor gabungan Swedia dan Jepang ini segera memasarkan Xperia Play atau yang biasa disebut dengan ponsel Playstation.

Di Indonesia, Xperia Play dijual seharga Rp 4 juta. Namun ada promosi pada saat peluncurannya nanti tanggal 29 Juli seharga Rp 3 juta di Sony Ericsson Shop di Senayan City, Jakarta. Hanya saja pemotongan harga hanya khusus untuk pemegang kartu kredit BCA.

”Tidak cuma soal hardwarenya, kami juga memikirkan ekosistem game untuk ponsel ini. Akan ada tujuh game gratis yang ada di Xperia Play," ucap Djunaidi Satrio, Head of Marketing Sony Ericsson Indonesia di Jakarta, Jumat (15/7/2011).

Xperia Play menjalankan OS Android Gingerbread. Ponsel ini memiliki prosesor 1Ghz, layar dengan teknologi Bravia Engine dan kamera 5 megapixel.

Sesuai julukannya sebagai ponsel Playstation, Xperia Play memiliki game pad slider. Ini untuk memudahkan gamer bermain bermacam game di ponsel tersebut.


Kebiasaan di Rumah yang Bisa Bikin Sakit




Penyakit memang bisa datang darimana saja. Tapi tanpa disadari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari bisa menjadi pemicu datangnya penyakit. Kebiasaan apa saja itu?

Rumah merupakan tempat seseorang melakukan segala macam aktivitasnya dan beristirahat. Tapi hal-hal yang dilakukan sehari-hari di rumah ternyata bisa menjadi pemicu seseorang sakit.

Untuk itu ketahui kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dan bisa menyebabkan sakit, seperti dikutip dari Lifemojo, Sabtu (16/7/2011) yaitu:

1. Jarang mengganti sponge (spons) untuk mencuci piring
Sponge adalah alat yang digunakan untuk mencuci piring, gelas atau peralatan lainnya di dapur. Karena digunakan untuk menggosok benda-benda yang kotor, maka sponge menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme seperti bakteri. Jika seseorang jarang menggantinya, maka sponge bisa menjadi alat yang menyebabkan infeksi.

2. Jarang mengganti seprai dan sarung bantal
Setiap hari sel-sel kulit mati dan mengeluarkan keringat bahkan saat tidak melakukan apa-apa termasuk ketika tidur. Karenanya sel-sel kulit mati dan bakteri dari keringat ini bisa menempel dan terakumulasi dalam kasur serta bantal sehingga memicu infeksi dan gangguan pernapasan. Untuk itu gantilah seprai, sarung bantal dan bersihkan kasur secara teratur.

3. Terlalu sering membakar daging
Membakar atau memanggang daging biasanya menggunakan suhu tinggi yang menghasilkan senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik dan amina heterosiklik (HCA) yang bisa memicu kanker.

4. Tidak membersihkan AC
Bagian dalam AC bisa menjadi tempat yang optimal untuk berbagai jenis jamur dan mikroba berkembang biak. Hal ini karena daerah tersebut lembab dan lingkungan yang hangat. Terkadang saat AC memutar maka spora bisa menyebar ke atmosfer, karenanya AC harus dibersihkan secara teratur.

5. Tidak memeriksa tanggal kadaluarsa
Setiap kali membeli barang, hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah memeriksa tanggal kadaluarsa, tapi sayangnya banyak orang yang tidak peduli dengan hal itu. Padahal makanan atau minuman yang sudah kadaluarsa bisa menyebabkan keracunan dengan gejala mual, diare dan muntah.

6. Tidak memandikan hewan peliharaan
Hewan peliharaan sama seperti makhluk hidup lain yang perlu dibersihkan agar terbebas dari kutu dan parasit lainnya. Untuk itu mandikanlah hewan peliharaan secara teratur untuk menghindari dari penyakit apapun yang bisa menular ke manusia.

7. Menonton televisi
Hal yang selalu dilakukan saat menonton televisi adalah mengemil makanan asin, kalori tinggi dan berlemak. Hal ini merupakan kombinasi yang tidak sehat dan bisa memicu obesitas sehingga menjadi faktor risiko untuk banyak penyakit.

Anak Kecil Juga Bisa Memiliki Rambut Uban




Rambut uban umumnya dijumpai pada orang yang sudah berusia lanjut atau dewasa tua. Tapi ternyata rambut uban juga bisa ditemukan pada anak-anak.

"Sebenarnya anak yang memiliki rambut uban adalah hal yang normal, dan masalah gizi merupakan penyebab yang paling umum terjadinya uban pada anak-anak," ujar Dr Jennifer Shu, seorang dokter anak dari Atlanta, seperti dikutip dari CNN, Sabtu (16/7/2011).

Dr Shu menuturkan masalah gizi yang paling mungkin jadi penyebabnya adalah anemia (kekurangan zat besi) dan kekurangan vitamin B12 akibat pola makan yang salah atau penyerapan vitamin B12 yang buruk oleh saluran pencernaan.

Selain itu kondisi ini juga bisa disebabkan oleh faktor genetik seperti hasil studi yang dipublikasikan dalam Journal of Investigative Dermatology Symposium Proceedings tahun 2005.

Masalah medis tertentu juga bisa menyebabkan rambut uban tumbuh lebih dini, seperti kadar tiroid yang abnormal (Grave's disease atau Hashimoto's disease). Hal ini karena kadar tiroid yang abnormal akan mempengaruhi proses metabolisme di dalam tubuh.

"Jika disebabkan oleh kondisi medis, maka pengobatan terhadap kondisi medis yang ada bisa membantu mencegah berkembangnya rambut uban pada anak-anak," dr Shu yang bekerja di Dartmouth-Hitchcock Medical Center, New Hampshire.

Jika uban yang muncul di rambut si kecil hanya 1-2 helai maka tidak perlu khawatir. Tapi jika uban yang muncul cukup banyak dan disertai dengan gejala lain, maka sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.

Umumnya uban terjadi ketika sel-sel pigmen di kantung rambut (folikel) secara bertahap mulai mati. Bila kandungan pigem dalam sel rambut sedikit, maka rambut tidak lagi terisi banyak melanin yang nantinya akan mengubah warma rambut menjadi putih atau abu-abu.

Friday, July 15, 2011

22 Juta Balita Akan Tentukan Masa Depan Indonesia




Masa depan sebuah bangsa terletak di tangan generasi mudanya, termasuk yang masih berusia balita. Indonesia memiliki sekitar 22 juta balita, yang harus dijamin kesehatan dan tumbuh kembangnya agar kelak bisa turut membangun bangsa.

Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Bidang Peningkatan Kapasitas dan Desentralisasi, dr Krisnajaya, MS memperkirakan jumlah anak balita (bawah lima tahun) Indonesia mencapai 10 persen dari populasi penduduk. Jika jumlah penduduknya 220-240 juta jiwa, maka setidaknya ada 22 juta balita di Indonesia.

"Kelompok balita yang jumlahnya sekitar 22 juta adalah kelompok potensial untuk ditangani sebagai salah satu upaya pembangunan manusia Indonesia agar kelak bisa bersaing di tingkat global," ungkap dr Krisna dalam acara "Gebyar Posyandu" menyambut Hari Anak Nasional di Plasa Bintaro, Jumat (15/7/2011).

dr Krisna menilai balita sebagai kelompok potensial karena pada usia ini anak-anak mengalami periode emas perkembangan fisik, mental dan intelekual. Jika tumbuh kembang anak mendapatkan perhatian lebih, maka saat dewasa akan menjadi warga yang berkualitas.

Sebaliknya jika pada usia ini anak tidak mendapat perhatian terkait kesehatan dan tumbuh kembangnya, maka saat dewasa akan cenderung sakit-sakitan dan tidak produktif. Makin banyak balita yang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang, makin banyak warga negara yang tidak berkualitas.

Sebagai upaya untuk menjamin kesehatan dan tumbuh kembang balita, dr Keisna mengatakan bahwa gerakan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) cukup penting peranannya. Di Posyandu, beberapa hal bisa dilakukan di bawah pengawasan bidan antara lain sebagai berikut.

1. Pemeriksaan kehamilan
2. Deteksi dini tumbuh kembang anak
3. Imunisasi dan pemberian vitamin A
4. Konseling/penyuluhan kesehatan ibu dan anak.

Saat ini, dr Krisna memperkirakan ada sedikitnya 269 ribu Posyandu yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan adanya Posyandu di hampir setiap desa, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan adanya harapan untuk meningkatkan kesehatan anak antara lain melalui data berikut ini.

1. Balita yang mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penimbangan badan meningkat menjadi 75 persen
2. Pemberian imunisasi campak pada usia 12-32 bulan meningkat menjadi 75 persen
3. Pemberian vitamin A mencapai 70 persen.

Perlukah Banyak-banyak Jejaring Sosial?




Kian hari, para pengguna aktif social media nampaknya semakin dimanjakan dengan hadirnya berbagai channel untuk melakukan social networking.

Setelah Twitter dan Facebook -- yang hingga saat ini masih menguasai pasar dan menjadi media sosial favorit banyak orang -- kini hadir Google+ yang gegap gempita kabar kehadirannya sempat menjadi trending topic di Twitter. Selama berhari-hari, saya yakin, linimasa para pengguna Twitter dipenuhi oleh nyaris hanya satu hal ini: Google+.

Belum tersedia data valid (atau sudah?) mengenai berapa jumlah pengguna Google+ sampai dengan saat ini. Namun, yang jelas, ada satu hal mendasar yang menjadi perhatian saya, dan barangkali banyak orang lain. Yakni bahwa, ternyata, teman-teman yang kita temukan di sana adalah juga lingkaran teman online yang selama ini kita akrabi juga di sekian banyak channel yang telah ada sebelumnya.

Pertanyaan besarnya adalah, betulkah kita memang se-sosial itu? Betulkah kita semua memang membutuhkan begitu banyak jenis media, yang nyata-nyata meski terlihat berbeda tapi serupa, untuk berinteraksi dengan orang lain?

Mari sedikit menengok ke belakang, ke beberapa saat yang lalu, ketika social media channel yang location based seperti Foursquare dan Koprol sedang menjadi primadona.

Semua kita seolah berlomba-lomba mengumumkan kepada dunia, bahwa kita sedang berada di lokasi atau tempat tertentu: mall A, gedung ini, lapangan basket itu. Saat itu, semua orang seolah-olah terbawa euphoria missal, yang membuat privasi tak ada artinya lagi.

Belakangan, Foursquare seolah-olah hanya menjadi ajang untuk ngumpulin badge sekaligus lucu-lucuan. Setiap orang bisa saja menciptakan venue sendiri, dan semua orang juga dengan mudah melakukan check in di sembarang tempat, tanpa harus benar-benar berada di lokasi tersebut.

Saya pribadi bahkan pernah punya tempat check in favorit: Pohon Mangga Depan Rumah, yang saya ibaratkan sebagai kamar tidur. Dan di sanalah saya check in hampir setiap dini hari -- yang lantas saya share via Twitter-- ketika semua pekerjaan sudah rampung, dan jam tidur saya sudah tiba. Padahal, tentu saja saya tidak tidur di atas pohon mangga.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa tak ada satu manusia pun yang butuh untuk menjadi sangat sosial. Sadar atau tidak, ada privasi yang tetap ingin kita jaga. Ada pula saat-saat kita merasa, bahwa sebaiknya orang lain tidak perlu tahu kita sedang berada di mana dan melakukan apa.

Bahkan dengan lingkaran terdekat pun, manusia tetap membutuhkan ruang dan jarak yang membuat dirinya merasa aman dan nyaman.

Kembali ke Google+, seperti yang sudah-sudah, saya termasuk golongan yang ikut arus riuh rendah mainan baru ini. Sekadar punya akun, cukup sampai di situ saja.

Dan toh ternyata, orang-orang yang berteman dengan saya di sana adalah teman-teman yang itu-itu juga. Teman jalan, rekan kerja, hampir tidak terasa bedanya dengan lingkaran pertemanan di social networking yang lain.

Thursday, July 7, 2011

Junk Food Memicu Keluarnya Senyawa Mirip Ganja




unk food punya kemiripan dengan ganja, sama-sama menyebabkan kecanduan. Sebuah penelitian mengungkap, seseorang bisa kecanduan junk food karena jenis makanan berlemak dan tinggi kalori ini dapat memicu pelepasan senyawa mirip ganja.

Oleh karena itu, seseorang yang sudah pernah merasakan enaknya makan junk food cenderung ingin mencobanya lagi suatu saat nanti. Lama-kelamaan karena tidak doyan makanan yang lebih bergizi, orang yang kecanduan junk food tersebut akan kekurangan nutrisi.

Menurut penelitian terbaru di University of California, lemak yang ada di junk food merupakan pemicu senyawa endocannabinoid di dalam tubuh. Struktur dan cara kerja senyawa ini mirip dengan cannabidiol, senyawa dalam tanaman ganja yang bisa memicu kecanduan.

Mekanisme pelepasan endocannabinoid dimulai saat lemak bereaksi dengan enzim-enzim di mulut. Reaksi tersebut menghasilkan sinyal ke otak, yang memberi isyarat bagi usus untuk melepaskan senyawa endocannabinoid agar tubuh selalu merasa butuh lemak.

Dalam penelitian ini, pelepasan senyawa ini hanya teramati ketika seseorang memakan makanan berlemak. Seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (7/7/2011), makanan tinggi gula dan protein saja tidak memicu pelepasan endocannabinoid, sehingga kalaupun memicu kecanduan maka mekanismenya akan berbeda.

Prof Daniele Piomelli yang memimpin penelitian ini menduga, mekanisme ini merupakan warisan dari proses evolusi. Pada manusia purba, endocannabinoid dilepaskan agar tubuh tidak kekurangan lemak sehingga sel-selnya bisa bekerja dengan optimal.

Pada manusia moderen yang tidak banyak bergerak, mekanisme ini sudah tidak terlalu dibutuhkan. Gaya hidup yang cenderung kurang gerak dan banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori menyebabkan kelebihan lemak justru berbahaya karena bisa memicu obesitas, diabetes dan kanker.

Menurut Prof Piomelli, temuan ini bisa menginspirasi pembuatan suatu obat untuk mengatasi obesitas. Caranya dengan menghambat pelepasan endocannabinoid, sehingga orang tidak selalu merasa butuh makanan berlemak dan hanya mengonsumsinya seperlunya.