Wednesday, July 20, 2011

Gangguan Ginjal Lebih Mematikan Jika Pinggang Terlalu Lebar




Banyak kerugian yang harus ditanggung oleh pemilik tubuh gemuk, termasuk dalam kaitannya dengan gangguan fungsi ginjal. Pada orang gemuk dengan lingkar pinggang terlalu lebar, risiko kematian akibat gangguan ginjal relatif lebih tinggi.

Dalam sebuah penelitian, Dr Holly Kramer dari Lolola University Health System mengamati 5.800 pasien berusia 45 tahun ke atas yang memiliki riwayat gangguan fungsi ginjal. Hasil pengamatan menunjukkan, 686 pasien atau 11,8 persen meninggal dalam kurun waktu 4 tahun.

Ketika dibandingkan dengan berat dan tinggi badan, pasien yang meninggal memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) rata-rata 29,2. Dari angka tersebut, pasien yang meninggal justru sedikit lebih kurus dibandingkan pasien yang masih hidup, yang rata-rata memiliki IMT 30,3.

Baik pada pasien yang meninggal maupun yang masih hidup, rata-rata IMT yang teramati keduanya sama-sama tergolong tidak sehat. Dikutip dari Healthday, Rabu (20/7/2011), IMT pada kisaran 25-29,9 sudah dikategorikan overweight atau kelebihan berat badan, smentara IMT 30 ke atas tergolong obesitas.

Meski lebih kurus jika dilihat berdasarkan IMT, dalam penelitian itu pasien yang meninggal memiliki lingkar pinggang lebih besar dibanding pasien yang masih hidup. Ini berarti pasien yang meninggal rata-rata mengalami obesitas sentral, yakni gemuk di bagian perut saja.

Para peneliti berkesimpulan, lingkar pinggang lebih akurat dibanding IMT untuk memprediksikan risiko kematian pada gangguan ginjal. Makin besar lingkar pinggangnya, makin tinggi risikonya untuk mengalami kematian, tentunya dengan tetap memperhatikan faktor lainnya.

Dalam kesimpulannya para peneliti mengatakan, perempuan dengan lingkar pinggang 107,9 cm memiliki risiko kematian 2,1 kali lebih besar dibanding pemilik lingkar pinggang 80,01 cm. Pada pria, lingkar pinggang sebesar 121,9 cm meningkatkan risiko kematian 2,1 kali lipat dibandingkan 93,98 cm.

Monday, July 18, 2011

Dampak Alkohol Lebih Berbahaya Pada Gadis Remaja




Otak perempuan sangat rentan terhadap bahaya alkohol karena berkembang lebih dulu ketimbang otak laki-laki. Gadis remaja yang doyan minum alkohol dapat mengalami kerusakan otak yang mengontrol memori dan kesadaran spasial.

Peneliti California menemukan bahwa alkohol dapat merusak kemampuan memori pada gadis remaja. Hal ini berdasarkan pengujian terhadap 95 remaja berusia 16 hingga 19 tahun yang dilakukan peneliti di beberapa universitas Amerika Serikat.

27 remaja laki-laki dan 13 remaja perempuan yang doyan minum alkohol (binge-drinking) diberi tes neurophsychological dan tes memori spasial. Tes yang sama juga diberikan pada 31 remaja laki-laki dan 24 remaja perempuan yang tidak doyan minum.

Gadis remaja yang doyan minum alkohol didefisikan sebagai mereka yang minum lebih dari tiga gelas bir atau lebih dari empat gelas anggur dalam sekali waktu. Sedangkan pada remaja laki-laki yang minum lebih dari empat gelas bir atau sebotol anggur.

Dengan menggunakan scan MRI, tim peneliti menemukan bahwa gadis remaja yang peminum berat mengalami lebih banyak penurunan aktivasi otak di beberapa daerah ketimbang pada remaja laki-laki.

Penurunan kemampuan otak ini dapat menyebabkan masalah ketika mengemudi, olahraga yang melibatkan gerakan kompleks, menggunakan peta atau mengingat letak suatu tempat.

"Perbedaan-perbedaan dalam aktivasi otak terkena dampak negatif fungsi lainnya, seperti konsentrasi dan memori kerja," ujar Dr Susan Tapert, profesor psikiatri di University of California, seperti dilansir BBC News, Senin (18/7/2011).

Penurunan fungsi otak ini lebih banyak terjadi pada gadis remaja. Menurut Dr Tapert, remaja laki-laki yang diteliti tidak terlalu banyak berpengaruh untuk tingkat yang sama.

"Remaja laki-laki yang doyan minum menunjukkan beberapa penurunan, tetapi lebih kurang dari perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa remaja perempuan mungkin sangat rentan terhadap efek negatif dari penggunakan alkohol yang berat," tutup Dr Tapert.

Otak Remaja Pecandu Internet Cenderung Keriput




Penggunaan internet sudah sangat umum pada zaman sekarang. Tapi sebuah studi menemukan bahwa menggunakan internet secara berlebihan dapat merusak otak remaja yang membuat salah satu bagian otak cenderung keriput.

Para ilmuwan menemukan adanya tanda-tanda atrofi (penyusutan) pada materi abu-abu di otak remaja pengguna internet berat yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Hal ini dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi dan memori, serta kemampuan remaja untuk membuat keputusan dan tujuan yang diterapkan. Selain itu juga dapat mengurangi hambatan dan mendorong remaja melakukan perilaku yang tidak pantas.

Kesimpulan ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan dengan menggunakan scan otak MRI dari 18 pelajar berusia 19 tahun yang menghabiskan 8 sampai 13 jam sehari untuk bermain game online,selama enam hari dalam seminggu.

Pelajar diklasifikasikan sebagai pecandu internet setelah menjawab delapan pertanyaan, termasuk apakah mereka telah mencoba untuk berhenti menggunakan internet dan apakah mereka berbohong kepada anggota keluarga tentang jumlah waktu yang mereka habiskan untuk online.

Hasil perbandingan dengan kelompok kontrol menunjukkan bahwa remaja pecandu internet mengalami kerusakan pada materi abu-abu di permukaan keriput otak (korteks), yang merupakan tempat pengolahan memori, emosi, kemampuan bahasa, penglihatan, pendengaran dan kontrol motor.

Peneliti juga menemukan adanya perubahan dalam jaringan otak yang disebut sebagai materi putih, yang melewatkan pesan antara daerah berbeda dari materi abu-abu dalam sistem saraf.

Menurut peneliti, kelainan ini dapat membuat remaja lebih bergantung pada internet dan harus menghadapi risiko mengalami IAD (internet addiction disorder).

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kecanduan internet jangka panjang akan mengakibatkan perubahan struktur otak," jelas peneliti yang merupakan ahli saraf dan ahli radiologi di universitas dan rumah sakit di China, seperti dilansir Dailymail, Senin (18/7/2011).

Saturday, July 16, 2011

Sony Ericsson Xperia Play Dihargai Rp 4 Juta



Sony Ericsson menghadirkan lagi smartphone Android terbarunya ke pasar Tanah Air. Vendor gabungan Swedia dan Jepang ini segera memasarkan Xperia Play atau yang biasa disebut dengan ponsel Playstation.

Di Indonesia, Xperia Play dijual seharga Rp 4 juta. Namun ada promosi pada saat peluncurannya nanti tanggal 29 Juli seharga Rp 3 juta di Sony Ericsson Shop di Senayan City, Jakarta. Hanya saja pemotongan harga hanya khusus untuk pemegang kartu kredit BCA.

”Tidak cuma soal hardwarenya, kami juga memikirkan ekosistem game untuk ponsel ini. Akan ada tujuh game gratis yang ada di Xperia Play," ucap Djunaidi Satrio, Head of Marketing Sony Ericsson Indonesia di Jakarta, Jumat (15/7/2011).

Xperia Play menjalankan OS Android Gingerbread. Ponsel ini memiliki prosesor 1Ghz, layar dengan teknologi Bravia Engine dan kamera 5 megapixel.

Sesuai julukannya sebagai ponsel Playstation, Xperia Play memiliki game pad slider. Ini untuk memudahkan gamer bermain bermacam game di ponsel tersebut.


Kebiasaan di Rumah yang Bisa Bikin Sakit




Penyakit memang bisa datang darimana saja. Tapi tanpa disadari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari bisa menjadi pemicu datangnya penyakit. Kebiasaan apa saja itu?

Rumah merupakan tempat seseorang melakukan segala macam aktivitasnya dan beristirahat. Tapi hal-hal yang dilakukan sehari-hari di rumah ternyata bisa menjadi pemicu seseorang sakit.

Untuk itu ketahui kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dan bisa menyebabkan sakit, seperti dikutip dari Lifemojo, Sabtu (16/7/2011) yaitu:

1. Jarang mengganti sponge (spons) untuk mencuci piring
Sponge adalah alat yang digunakan untuk mencuci piring, gelas atau peralatan lainnya di dapur. Karena digunakan untuk menggosok benda-benda yang kotor, maka sponge menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme seperti bakteri. Jika seseorang jarang menggantinya, maka sponge bisa menjadi alat yang menyebabkan infeksi.

2. Jarang mengganti seprai dan sarung bantal
Setiap hari sel-sel kulit mati dan mengeluarkan keringat bahkan saat tidak melakukan apa-apa termasuk ketika tidur. Karenanya sel-sel kulit mati dan bakteri dari keringat ini bisa menempel dan terakumulasi dalam kasur serta bantal sehingga memicu infeksi dan gangguan pernapasan. Untuk itu gantilah seprai, sarung bantal dan bersihkan kasur secara teratur.

3. Terlalu sering membakar daging
Membakar atau memanggang daging biasanya menggunakan suhu tinggi yang menghasilkan senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik dan amina heterosiklik (HCA) yang bisa memicu kanker.

4. Tidak membersihkan AC
Bagian dalam AC bisa menjadi tempat yang optimal untuk berbagai jenis jamur dan mikroba berkembang biak. Hal ini karena daerah tersebut lembab dan lingkungan yang hangat. Terkadang saat AC memutar maka spora bisa menyebar ke atmosfer, karenanya AC harus dibersihkan secara teratur.

5. Tidak memeriksa tanggal kadaluarsa
Setiap kali membeli barang, hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah memeriksa tanggal kadaluarsa, tapi sayangnya banyak orang yang tidak peduli dengan hal itu. Padahal makanan atau minuman yang sudah kadaluarsa bisa menyebabkan keracunan dengan gejala mual, diare dan muntah.

6. Tidak memandikan hewan peliharaan
Hewan peliharaan sama seperti makhluk hidup lain yang perlu dibersihkan agar terbebas dari kutu dan parasit lainnya. Untuk itu mandikanlah hewan peliharaan secara teratur untuk menghindari dari penyakit apapun yang bisa menular ke manusia.

7. Menonton televisi
Hal yang selalu dilakukan saat menonton televisi adalah mengemil makanan asin, kalori tinggi dan berlemak. Hal ini merupakan kombinasi yang tidak sehat dan bisa memicu obesitas sehingga menjadi faktor risiko untuk banyak penyakit.

Anak Kecil Juga Bisa Memiliki Rambut Uban




Rambut uban umumnya dijumpai pada orang yang sudah berusia lanjut atau dewasa tua. Tapi ternyata rambut uban juga bisa ditemukan pada anak-anak.

"Sebenarnya anak yang memiliki rambut uban adalah hal yang normal, dan masalah gizi merupakan penyebab yang paling umum terjadinya uban pada anak-anak," ujar Dr Jennifer Shu, seorang dokter anak dari Atlanta, seperti dikutip dari CNN, Sabtu (16/7/2011).

Dr Shu menuturkan masalah gizi yang paling mungkin jadi penyebabnya adalah anemia (kekurangan zat besi) dan kekurangan vitamin B12 akibat pola makan yang salah atau penyerapan vitamin B12 yang buruk oleh saluran pencernaan.

Selain itu kondisi ini juga bisa disebabkan oleh faktor genetik seperti hasil studi yang dipublikasikan dalam Journal of Investigative Dermatology Symposium Proceedings tahun 2005.

Masalah medis tertentu juga bisa menyebabkan rambut uban tumbuh lebih dini, seperti kadar tiroid yang abnormal (Grave's disease atau Hashimoto's disease). Hal ini karena kadar tiroid yang abnormal akan mempengaruhi proses metabolisme di dalam tubuh.

"Jika disebabkan oleh kondisi medis, maka pengobatan terhadap kondisi medis yang ada bisa membantu mencegah berkembangnya rambut uban pada anak-anak," dr Shu yang bekerja di Dartmouth-Hitchcock Medical Center, New Hampshire.

Jika uban yang muncul di rambut si kecil hanya 1-2 helai maka tidak perlu khawatir. Tapi jika uban yang muncul cukup banyak dan disertai dengan gejala lain, maka sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.

Umumnya uban terjadi ketika sel-sel pigmen di kantung rambut (folikel) secara bertahap mulai mati. Bila kandungan pigem dalam sel rambut sedikit, maka rambut tidak lagi terisi banyak melanin yang nantinya akan mengubah warma rambut menjadi putih atau abu-abu.

Friday, July 15, 2011

22 Juta Balita Akan Tentukan Masa Depan Indonesia




Masa depan sebuah bangsa terletak di tangan generasi mudanya, termasuk yang masih berusia balita. Indonesia memiliki sekitar 22 juta balita, yang harus dijamin kesehatan dan tumbuh kembangnya agar kelak bisa turut membangun bangsa.

Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Bidang Peningkatan Kapasitas dan Desentralisasi, dr Krisnajaya, MS memperkirakan jumlah anak balita (bawah lima tahun) Indonesia mencapai 10 persen dari populasi penduduk. Jika jumlah penduduknya 220-240 juta jiwa, maka setidaknya ada 22 juta balita di Indonesia.

"Kelompok balita yang jumlahnya sekitar 22 juta adalah kelompok potensial untuk ditangani sebagai salah satu upaya pembangunan manusia Indonesia agar kelak bisa bersaing di tingkat global," ungkap dr Krisna dalam acara "Gebyar Posyandu" menyambut Hari Anak Nasional di Plasa Bintaro, Jumat (15/7/2011).

dr Krisna menilai balita sebagai kelompok potensial karena pada usia ini anak-anak mengalami periode emas perkembangan fisik, mental dan intelekual. Jika tumbuh kembang anak mendapatkan perhatian lebih, maka saat dewasa akan menjadi warga yang berkualitas.

Sebaliknya jika pada usia ini anak tidak mendapat perhatian terkait kesehatan dan tumbuh kembangnya, maka saat dewasa akan cenderung sakit-sakitan dan tidak produktif. Makin banyak balita yang tidak mendapat perhatian dan kasih sayang, makin banyak warga negara yang tidak berkualitas.

Sebagai upaya untuk menjamin kesehatan dan tumbuh kembang balita, dr Keisna mengatakan bahwa gerakan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) cukup penting peranannya. Di Posyandu, beberapa hal bisa dilakukan di bawah pengawasan bidan antara lain sebagai berikut.

1. Pemeriksaan kehamilan
2. Deteksi dini tumbuh kembang anak
3. Imunisasi dan pemberian vitamin A
4. Konseling/penyuluhan kesehatan ibu dan anak.

Saat ini, dr Krisna memperkirakan ada sedikitnya 269 ribu Posyandu yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan adanya Posyandu di hampir setiap desa, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan adanya harapan untuk meningkatkan kesehatan anak antara lain melalui data berikut ini.

1. Balita yang mendapatkan pemantauan kesehatan melalui penimbangan badan meningkat menjadi 75 persen
2. Pemberian imunisasi campak pada usia 12-32 bulan meningkat menjadi 75 persen
3. Pemberian vitamin A mencapai 70 persen.