Tuesday, October 9, 2012

Benarkah Puasa Cermin Bisa Hindari Orang dari Stres?



Perempuan dan cermin bisa jadi adalah 2 hal yang tak bisa dipisahkan. Namun beberapa perempuan bisa menjadi stres jika ia bercermin, karena itu kini tengah menjadi tren tersendiri untuk menghindari cermin (mirror-fasting).

Perempuan bisa bercermin hingga 70 kali dalam sehari, meskipun sebagian besar perempuan merasa benci saat melihat dirinya di cermin dan membuatnya merasa negatif tentang dirinya sendiri.

Kondisi ini mendorong adanya tren baru yang mana perempuan menghindari cermin sama sekali atau dikenal dengan mirror-fasting. Tren ini dipelopori oleh blogger Autumn Whitefield-Madrano (36 tahun).

Whitefield-Madrano menuturkan ketika ia berhasil menghindari cermin selama 1 bulan ia merasa lebih tenang dan tentram karena terhindar dari pemikiran negatif mengenai dirinya.

Selain itu, jika ia harus menggunakan cermin ketika tengah menggunakan make up atau menata gaya rambutnya, maka ia akan meletakkan selembar kertas di cermin tersebut sehingga tidak bisa melihat bayangan tubuhnya secara keseluruhan.

Meski begitu, beberapa ahli mengungkapkan tidak merasa yakin bahwa teknik tersebut akan berhasil dalam upaya mencegah pikiran negatif tentang penampilan seseorang.

"Menghindari diri sendiri di cermin bisa menciptakan masalah untuk jangka waktu yang panjang," ujar psikolog klinis Emma Webster dari Self Essentials di Sydney, seperti dikutip dari News.com.au, Senin (8/10/2012).

Webster menuturkan akan menjadi hal yang sangat penting menemukan tingkat bercermin yang normal, seperti menggunakan cermin ketika tengah berpakaian atau memakai make up dan menghindarinya saat-saat diluar itu.

Sementara itu Christine Morgan dari Butterfly Foundation, organisasi yang mendukung orang dengan gangguan makan dan citra negatif tubuh mengungkapkan taktik puasa cermin mungkin hanya berguna bagi sebagian orang, tapi tidak bisa menjadi obat untuk orang yang merasa rendah diri.

"Sering mengecek tubuh di cermin merupakan gejala yang muncul dari penyebab seseorang memiliki citra tubuh negatif. Citra tubuh negatif bukanlah tentang apa yang terlihat, tapi bagaimana perasaan Anda tentang apa yang dilihat," ujar Morgan.

Monday, October 8, 2012

Samsung Galaxy Camera Dibanderol Rp 7 Juta?



Samsung Galaxy Camera sudah menampakkan diri di beberapa ajang teknologi. Namun publik belum mengetahui harga kamera Android tersebut, hingga saat ini.

Kamera tersebut banyak diperbincangkan. Sebab ia adalah salah satu kamera yang telah dibekali dengan sistem operasi Android. Dibandingkan dengan kamera-kamera lain, Galaxy Camera ini memungkinkan pengguna untuk mengakses aplikasi Android langsung dari Google Play.

Dikutip dari UberGizmo, Senin (8/10/2012), piranti ini akan hadir di Jerman pada akhir bulan ini. Dilaporkan harga retail yang disarankan adalah 599 Euro atau sekitar Rp 7,4 juta (1 EUR = Rp 12.487). Tentu saja harga tersebut bervariasi tergantung dari vendor yang memboyongnya.

Samsung bukanlah pertama yang membesut kamera Android. Sebelumnya, di awal tahun ini Polaroid meluncurkan SC1630 Smart Camera yang juga ditanamkan Android. Lantas di bulan Agustus salah satu pemain kamera raksasa Nikon turut merilis kamera point-and-shoot dengan sistem operasi besutan Google itu di seri Coolpix S800c.

Kembali ke Galaxy Camera. Dengan harga tersebut, konsumen akan mendapatkan piranti yang mengusung layar LCD HD Super Clear 4.8 inch, lensa dengan optical zoom 21x dan sensor 16 MP BSI CMOS serta prosesor quad-core 1 GHz. Di Indonesia sendiri, piranti ini belum dirilis secara resmi.

Otak Terasa 'Blank' Saat Mengingat-ingat Sesuatu? Ini Dia Alasannya



Ketika seseorang berupaya fokus pada satu pekerjaan atau mencoba mengingat suatu gambar maka pada saat yang bersamaan orang yang bersangkutan takkan mampu memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya atau semacam 'terbutakan'.

Sebuah studi baru dari Inggris pun menemukan salah satu penyebab fenomena yang disebut kebutaan yang tak diperhatikan (inattentional blindness) ini. Menurut peneliti, memfokuskan pikiran atau mengingat-ingat sesuatu sudah cukup membuat manusia tak menyadari hal-hal lain yang terjadi atau berada di sekitarnya.

"Satu contoh nyata yang relevan dengan temuan ini adalah kondisi yang terjadi pada orang-orang yang berupaya mengikuti petunjuk dari alat navigasi satelit (GPS) ketika mengemudi," ungkap Nilli Lavie, Ph.D. dari University College of London yang memimpin studi ini.

"Studi kami menunjukkan bahwa ketika kita fokus pada suatu hal atau mengingat arahan yang baru saja kita lihat pada layar GPS akan membuat kita lebih cenderung gagal memperhatikan bahaya di sekitar jalan yang kita lewati, misalnya kita mungkin tak tahu ada sepeda motor yang mendekat atau pejalan kaki yang tengah menyeberang, meskipun kita terlihat memandang ke depan," terang Lavie.

Untuk memperoleh kesimpulan itu, peneliti menggunakan scan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Perangkat ini difungsikan untuk mengamati aktivitas otak partisipan ketika mereka diberi tugas untuk mengingat-ingat sebuah gambar. Di tengah tugas itu, peneliti juga meminta partisipan mendeteksi adanya kelebatan cahaya yang ditujukan pada mereka.

Hasilnya, ketika partisipan disibukkan dengan tugas mengingat-ingat gambar tersebut, mereka pun gagal memperhatikan kelebatan cahaya yang dimaksudkan peneliti, kendati tak ada obyek lain yang diperlihatkan pada partisipan waktu itu.

Namun sebaliknya ketika partisipan tidak diberi tugas apapun, mereka dapat mendeteksi kelebatan cahaya itu dengan mudah. Hal ini menunjukkan bahwa partisipan mengalami 'kebutaan yang dipicu oleh beban pikiran' (load induced blindness).

Ketika di-scan dengan fMRI, peneliti menemukan adanya penurunan aktivitas pada salah satu daerah otak yang bertugas memproses informasi visual yang masuk yaitu korteks visual primer (primary visual cortex).

"'Kebutaan' itu tampaknya disebabkan oleh adanya gangguan pada pesan visual yang masuk ke otak pada tahapan paling awal jalannya aliran informasi ke otak. Artinya ketika mata dapat 'melihat' obyek, otak justru tidak melihatnya atau mungkin terlambat melihat obyek yang dimaksud," tandas Lavie seperti dilansir daripsychcentral, Senin (8/10/2012).

Peneliti pun menduga hal ini diakibatkan persaingan untuk memperoleh kekuatan memproses informasi otak yang stoknya terbatas atau disebut dengan 'teori beban' (load theory). Persaingan itu terjadi antara informasi visual baru dengan memori visual manusia yang bersifat jangka pendek.

Tapi dugaan inilah yang dianggap mampu menjelaskan mengapa otak gagal mendeteksi peristiwa yang mencolok sekalipun dalam penglihatan manusia ketika perhatiannya telah terfokus pada satu tugas yang melibatkan beban informasi yang begitu tinggi.

Cukupi Kebutuhan Mineral Seng untuk Tubuh Agar Tak Kena Jantung dan Prostat



Makan makanan enak seperti steak seringkali diidentikkan dengan kolesterol tinggi dan gangguan jantung. Tapi sebenarnya makanan ini juga dapat memberikan suplai mineral penting bagi setiap orang namun sering diabaikan yaitu seng.

Menurut studi baru dari Oregon State University, seng yang banyak ditemukan pada makanan seperti daging merah justru dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung degeneratif hingga kanker prostat.

Rendahnya kadar seng ini cukup banyak ditemukan pada orang-orang berusia di atas 60 tahun yaitu sekitar 40 persen. Padahal kondisi ini dapat berkontribusi terhadap munculnya peradangan dan mengganggu proses perbaikan dan ekspresi DNA, sedangkan gangguan pada keduanya jelas-jelas dapat menyebabkan penyakit seperti kanker, kata peneliti.

Masalahnya, semakin tua maka kemampuan seseorang untuk menyerap seng menurun. "Jadi jika mungkin Anda kekurangan seng, sulit untuk mendeteksi dengan tepat kapan hal itu terjadi," terang Alexandra Caspero, RD, pendiri layanan manajemen berat badan dan nutrisi olahraga Delicious-Knowledge.com.

"Itulah kenapa menambah asupan seng Anda sekarang bisa jadi merupakan cara terbaik untuk tetap sehat dalam waktu lama," tambahnya seperti dilansir dari menshealth, Senin (8/10/2012).

Selain itu, kekurangan asupan seng pada usia berapapun dapat menyebabkan kanker prostat. Hal ini diamini sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health yang mengungkapkan bahwa pasien kanker prostat berusia 45-79 yang makan makanan kaya seng 74 persen berpeluang lebih kecil meninggal akibat penyakit tersebut.

Oleh karena itu setiap orang harus memenuhi dosis seng yang direkomendasikan yaitu 11 miligram perhari. Mineral ini bisa diperoleh dari daging, produk ternak dan makanan laut.

Sumber lainnya adalah jamur, yogurt dan tiram. Bahkan tiram dikatakan sebagai sumber seng terbesar karena mengandung 74 miligram seng untuk setiap penyajiannya.

Bisa juga dengan suplemen yang rata-rata mengandung 30 miligram seng per tabletnya.

Kesulitan Mengunyah Bikin Orang Cepat Pikun



Semakin tua seseorang, semakin besar pula kemungkinan untuk mengalami kerusakan fungsi otak seperti demensia. Tetapi bukan hanya terkait usia saja, demensia juga telah dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam mengunyah makanan.

Seperti dilansir health.india, Senin (8/10/2012), sebuah studi yang dilaporkan dalam Journal of American Geriatrics Society menyatakan bahwa orang yang kesulitan mengunyah makanan keras akan mengalami penurunan aliran darah ke otak. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi fungsi kognitif seseorang terkait risiko demensia.

Demensia merupakan istilah medis yang digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsi kognitif akibat adanya kelainan yang terjadi pada otak. Gejala demensia yang paling umum adalah pikun, walaupun semua kasus pikun itu sendiri tidak selalu mengindikasikan terjadinya demensia.

Kemampuan seseorang dalam mengunyah makanan mungkin berhubungan erat dengan kondisi gigi dan mulutnya. Sejauh ini telah banyak yang mempelajari berbagai penyakit yang terkait dengan kondisi gigi dan mulut, tetapi belum ada penelitian secara langsung untuk mengetahui pentingnya kemampuan mengunyah.

Tim peneliti yang terdiri dari para dokter gigi dari Ageing Research Centre (ARC) di Karolinska Institutet dan dari Karlstad University telah melakukan studi terhadap kondisi gigi, kemampuan mengunyah, dan fungsi kognitif terhadap 557 orang berusia lebih dari 77 tahun secara acak.

Peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami kesulitan mengunyah makanan keras seperti apel memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami gangguan kognitif terlepas dari jenis kelamin, usia, pendidikan, dan masalah-masalah kesehatan mental.

Sehingga menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini sangat penting agar ketika tua Anda tidak cepat kehilangan gigi atau ompong dan masih sanggup mengunyah makanan yang keras. Aliran darah akan tetap normal dan Anda terhindar dari risiko demensia.

Tak Beraktivitas Tapi Kok Lapar Terus Ya?



Sehabis berolahraga atau melakukan aktivitas yang intensitasnya tinggi, biasanya seseorang akan merasa lapar. Tapi ada sebagian orang yang sering merasa lapar ketika tidak beraktivitas sekalipun, bahkan terkadang porsinya melebihi orang kebanyakan.

Lalu apa penyebab munculnya kondisi semacam ini? Berikut 10 alasan yang paling sering mendasari perilaku orang-orang yang selalu merasa lapar seperti halnya dilansir dari fitbie, Senin (8/10/2012).

1. Terlalu banyak minum alkohol
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Research, alkohol adalah penyebab munculnya keinginan untuk makan secara berlebihan (overeating) yang efeknya lebih besar daripada kurang tidur. Pasalnya, minum alkohol meningkatkan kadar ghrelin yaitu hormon yang membuat Anda selalu merasa lapar.

2. Terlalu banyak nonton TV
Orang yang menonton TV lebih dari dua jam dalam sehari lebih cenderung mengalami kelebihan berat badan. Hal ini diungkap dalam sebuah studi yang dilakukan USDA.

60 persen orang Amerika juga termasuk ke dalam kategori ini dan para peneliti menemukan bahwa mereka cenderung mengonsumsi cemilan berkalori tinggi, pizza dan minuman berpemanis dengan porsi besar.

Mereka juga lebih memilih makan makanan berkalori tinggi saat makan malam dibandingkan orang-orang yang durasi nonton TV-nya kurang dari satu jam sehari.

3. Kurang tidur
Kurang tidur tak hanya membuat seseorang merasa kelelahan keesokan harinya tapi orang juga akan cenderung makan kalori lebih banyak.

Spesifiknya, sebuah studi dari University of Chicago memaparkan bahwa orang yang hanya tidur selama 5,5 jam akan makan cemilan 221 kalori lebih banyak daripada orang yang bisa tidur hingga 8,5 jam.

Sepakat dengan temuan itu, tim peneliti dari Stanford University menjelaskan bahwa kurangnya jam tidur dapat menurunkan kadar hormon leptin sekaligus meningkatkan kadar hormon ghrelin sebagai pemicu rasa lapar dan tentu saja kombinasi keduanya dapat menaikkan selera makan Anda.

Selain itu, studi lain yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism mengungkapkan bahwa kurang istirahat juga merangsang bagian otak yang mengaitkan makanan dengan kesenangan.

4. Suka lihat-lihat gambar makanan
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience menemukan bahwa melihat gambar-gambar makanan enak dapat menyalakan pusat kesenangan yang ada di otak dan mendorongnya memberikan respons untuk makan secara berlebihan.

Studi lain yang ditampilkan dalam jurnal Obesity juga mengemukakan bahwa melihat gambar makanan dapat meningkatkan kadar hormon ghrelin, bahkan jika Anda hanya makan makanan biasa.

Jika sedang diet maka Anda akan lebih tergoda untuk melihat gambar-gambar makanan. Berdasarkan hasil sebuah studi yang ditampilkan dalam jurnal Appetite, pelaku diet bisa makan 60 kalori dari permen lebih banyak setelah melihat acara TV yang menampilkan gambar makanan manis.

Sebaliknya orang yang tidak melakukan diet tetap makan permen dengan porsi yang sama meski disuguhi gambar-gambar makanan di TV ataupun tidak.

5. Teman-teman suka mentraktir makan
Sebagian besar orang akan cenderung meniru perilaku makan teman yang mentraktirnya atau mengajaknya makan di luar, meski awalnya mereka tak ingin makan. Hal ini diungkap sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS One.

Bahkan jika Anda mencoba membuat teman Anda terkesan maka efeknya akan terlihat semakin besar. Secara khusus studi yang ditampilkan dalam Journal of Social and Clinical Psychology ini mengemukakan bahwa mahasiswa yang suka membuat temannya senang lebih cenderung makan cemilan ketika salah satu temannya menawarkan untuk mentraktir mereka, bahkan dari waktu ke waktu porsinya pun makin banyak.

6. Melewatkan sarapan
Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, orang yang melewatkan sarapannya berpeluang 4,5 kali lebih besar untuk mengalami obesitas.

Sarapan yang terlewatkan dapat memperlambat metabolisme sehingga membuat Anda selalu merasa lapar, membuat modus tubuh Anda berubah menjadi penyimpan lemak serta meningkatkan peluang Anda untuk makan berlebihan pada jam makan berikutnya.

Padahal untuk sarapan, tak perlu makanan yang kalorinya banyak atau bergizi lengkap. Sebuah studi dari University of Missouri menekankan bahwa remaja yang hanya sarapan dengan sereal dan susu yang totalnya 500 kalori setiap hari selama tiga minggu dilaporkan tak begitu merasa lapar saat jam makan siang dibandingkan remaja yang melewatkan sarapannya.

7. Makan terlalu cepat
Makan sebelum berangkat sekolah atau meeting akan mencegah makan berlebihan di sore hari tapi jika makannya terburu-buru, tubuh Anda mungkin takkan merasa terpuaskan dengan makanan itu.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menemukan ketika Anda makan terlalu cepat, perut takkan sempat melepaskan hormon yang bertugas memberitahu otak Anda bahwa Anda sudah kenyang. Itulah kenapa semakin lama partisipan menghabiskan waktunya untuk makan semangkuk es krim, partisipan merasa semakin kenyang.

8. Suka beli-beli cemilan yang porsinya kecil
Berdasarkan sebuah studi yang ditampilkan dalam Journal of Consumer Research, ketika makanan berkalori tinggi diletakkan dalam kemasan yang kecil, orang-orang akan cenderung memakannya lebih banyak daripada jika kemasannya besar.

Lagipula cemilan berkemasan kecil seperti ini biasanya dijual dalam bentuk kelipatan sehingga sulit untuk berhenti memakannya jika Anda sudah makan satu-dua biji.

9. Stres di tempat kerja
Bos yang cerewet atau beban kerja yang tinggi dapat mempengaruhi kebiasaan makan seseorang. Hal ini diungkap dari sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition.

Dari 230 partisipan wanita yang dilibatkan dalam studi ini, mereka yang merasakan stres di tempat kerja lebih sering dilaporkan mengalami kebiasaan makan yang cenderung emosional dan tak terkontrol dibandingkan mereka yang merasa puas dengan pekerjaannya.

10. Kecanduan soda diet
Meski pada kemasannya tercantum kata 'diet' bukan berarti minuman berkalori nol itu bisa menghindarkan Anda dari penambahan berat badan.

Pasalnya, gula pengganti yang ada di dalam minuman soda diet ini justru mengganggu kemampuan otak untuk mengendalikan seberapa banyak porsi yang Anda perlukan untuk makan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Physiology & Behavior.

Studi yang dilakukan tim peneliti dari University of California dan San Diego State University ini mengungkapkan bahwa gara-gara minuman tersebut kemampuan otak untuk mengatur asupan makanan Anda menjadi terganggu.

Selain itu, rutin minum soda diet menghilangkan sensor otak terhadap makanan/minuman manis jadi ketika Anda mengonsumsi sesuatu yang manis maka tubuh takkan memperoleh kalori yang diharapkan sehingga membuat otak menjadi 'kebingungan'.

Padahal sekali kebingungan, otak akan berhenti mengidentifikasi kalori yang ada pada makanan/minuman manis yang dikonsumsi seseorang lalu kontrol tubuh terhadap makanan/minuman manis itu akan melemah.

Harga Mati! Peralatan Dokter Gigi Harus Sangat Bersih


Ketika seseorang pergi ke dokter gigi maka ia menginginkan kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik. Tapi jika dokter giginya jorok, justru ia bisa menularkan infeksi ke pasien.

Penelitian mengungkapkan dokter gigi yang gagal membersihkan peralatannya dengan benar atau jorok bisa membuat pasien yang sedang diperiksanya terancam terkena infeksi.

Dalam analisis yang dilakukan terhadap 1.667 praktek dokter gigi yang diperiksa oleh Care Quality Commission (CQC) menemukan sekitar 189 dokter gigi tidak mengikuti petunjuk tata cara membersihkan instrumen dengan benar.

Hal ini menunjukkan sekitar 1 dari 9 dokter gigi yang diperiksa melanggar pedoman mengenai kebersihan dan pengendalian infeksi yang dirancang untuk mencegah penyebaran kondisi seperti HIV, Hepatitis dan vCJD.

Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui darah, para ahli merekomendasikan alat-alat harus dibersihkan dengan benar, yaitu digosok di dalam satu wastafel, lalu dibilas dan diproses melalui pembersih uap autoclave.

Setelah itu harus disimpan dalam keadaan steril dan diberi tanggal. Namun beberapa peralatan justru ada yang tidak bisa dibersihkan atau digunakan kembali sehingga harus dibuang setiap kali dipakai.

"Praktek pengendalian infeksi dalam kedokteran gigi harus diberi prioritas tertinggi, karena beberapa pasien memiliki kekhawatiran mengenai kebersihan," ujar Katherine Murphy, chief executive dari The Patient’s Association, seperti dikutip dari Telegraph, Senin (8/10/2012).

Orang-orang mungkin tidak sepenuhnya dilindungi terhadap risiko infeksi, namun masalah-masalah ini telah disorot agar segera diperbaiki dengan melakukan sterilisasi melalui standar yang benar.

Risiko pasien terkena infeksi dari darah melalui peralatan yang tidak disterilkan dengan benar memang rendah, tapi bukan berarti tidak ada kasus mengenai hal ini karena beberapa dokter menemukan infeksi di tubuh pasien akibat sterilisasi alat yang tidak benar.